Pas lagi nulis post ini saya lagi dengerin lagu - lagunya Maximum The Hormone, jadi mohon di maklumi klo sedikit provokatif.
Penulisan postingan ini saya lakukan tepat setelah menyelesaikan satu event besar di Bali, can't say what event it is, since it's gonna tell you all the worst side of this event.
Jabatan saya di event ini adalah jabatan tertinggi untuk saya selama ini, dan postingan ini berfungsi untuk mengevaluasi baik diri saya sendiri maupun untuk teman - teman EO yang ada di indonesia.
Awalnya, waktu mendaftar dan menyerahkan CV, saya hanya di tugaskan sebagai petugas registrasi, malahan sebelumnya di katakan sebagai petugas reservasi. Di sini sudah terlihat satu kesalahan sistem yang mungkin kecil, tapi untuk event tingkat International dengan tim inti yang (seharusnya) professional, hal seperti ini sangat tidak perlu terjadi.
2 minggu setelah penyerahan CV dan penandatanganan kontrak kerja (masih dengan status staff registrasi), tiba - tiba di hari minggu pagi saya mendapatkan telpon. Saya diharuskan berada di suatu tempat meeting secepatnya, yang notabene, tempat meeting itu berada lumayan jauh dari tempat saya tinggal, saya sampai di tempat meeting pukul 08.30 tepat 30 menit setelah meeting di mulai.
Di tempat meeting itu pula saya di beritahukan bahwa saya dipindah ke jabatan yang lebih tinggi, saya kira hari itu saya akan mendapatkan briefing mengenai jabatan saya yang baru, ternyata tidak, saya hanya mendapatkan pengetahuan general mengenai event ini.
Kelar meeting, saya langsung bertanya kepada pihak EO apakah saya akan mendapatkan briefing khusus yang sesuai dengan jabatan saya yang baru, jawaban mereka adalah "Nanti kami kabari". Ini adalah kesalahan yang sangat krusial bagi saya, karena menurut saya pribadi saya belum begitu siap untuk jabatan baru ini, masih sangat awam!.
Masih tanpa kabar sama sekali sampai akhirnya 3 hari sebelum event dimulai saya di hubungi oleh pihak EO dan di minta untuk hadir besok mengikuti briefing tentang jabatan baru saya.
H-2 saya bertemu dengan EO untuk mendapatkan briefing, saya pikir ini adalah briefing khusus, ternyata tidak, briefing ini memakan waktu tidak lebih dari 15 menit, dan hanya menggambarkan hal yang sangat general tentang event ini dan tentang jabatan baru saya.
H-1 saya bertemu dengan koordinator saya di venue, tanpa briefing khusus saya langsung di beri tugas simple yang berkaitan dengan sistem, di sini kesalahan kembali terjadi, kartu yang dihasilkan oleh sistem tidak sesuai dengan permintaan awal customer dari pihak EO, alhasil kami harus terus melakukan trial & error dengan harapan dapat menyelesaikan ribuan kartu sebelum event di mulai. Kartu akhirnya berhasil di cetak dengan mengorbankan ratusan kartu sebagai alat eksperimen yang per pcs-nya seharga USD 10.00.
Hari-H di mulai, pasukan dari EO datang ke venue untuk mendapatkan briefing secara menyeluruh tentang sistematika operasional selama Event berlangsung, dan saya masih meraba-raba akan tugas apa yang akan saya dapat, seberapa besar tanggung jawab saya, dan seberapa besar otoritas saya dalam mengambil keputusan.
Dan mulai dari H+2 secara terus menerus selama Event barulah saya secara perlahan mengetahui tanggung jawab dan tugas saya yang mana jauh lebih besar dari gambaran yang di berikan pada H-2. Ini bukan hal yang bagus karena salah satu tugas saya adalah memastikan adanya pencatatan barang keluar - masuk gudang yang mana tidak saya lakukan di hari-h. dan tugas saya juga untuk mengetahui siapa saja yang menjadi tanggung jawab saya, dan siapa yang bukan. Bahkan dalam satu hari di saat event berlangsung, rekan kerja saya yang merupakan pengganti saya di shift malam menangis karena tidak tahan dengan beban pekerjaan ini.
Saya mungkin masih baru di dunia per-event-an, tapi saya tahu, dengan standar seperti ini, tingkat kesalahan yang terjadi di luar batas toleransi!. Tidak sepatutnya kesalahan seperti ini terjadi, apa lagi sudah menyandang embel - embel "Professional".
Pemilihan SDM untuk event seperti ini harus di perhitungkan matang - matang, saya tidak menganggap diri saya tidak kompeten, hanya saja untuk saat ini saya merasa saya belum siap memangku jabatan sebesar itu di event tingkat international seperti ini. Kalau masalahnya hanya di bentak - bentak sana - sini dan kurangnya jam tidur saja sih tidak masalah, namun yang kita harus perhitungkan adalah image yang kita bawa di sini. Kita tidak hanya mewakili diri sendiri, tapi juga nama negara di sini.
Sistem yang digunakan juga sangat tidak membantu, malah menyebabkan kerugian besar, dari cerita - cerita yang saya dapatkan selama event berlangsung, di saat persentasi, si Vendor tampak begitu yakin dengan sistemnya, Eh.... pas di pake, malah uji coba mulu, gak hanya rugi materi, kita juga rugi waktu.
Yah... shit is happen, dan sialnya terjadi di salah satu event yang merupakan target utama saya tahun ini, tapi dari hal paling buruk sedikit pun saya masih banyak menerima hal - hal positif seperti pengalaman, pengetahuan dan kenal dengan orang - orang yang mungkin tidak akan pernah saya kenal jika saya tidak mengikuti event ini.
Namun tetap kita harus melakukan evaluasi, karena perubahan akan terus terjadi dan kita berharap perubahan itu akan berlanjut ke arah yang lebih baik :)
Senin, 07 Oktober 2013
Sabtu, 21 September 2013
Can't keep the smile off my face!!!
Holllaaaaaa!!!!.....
HAI HAI HAI HAI HAI HAI!!!!!
It's a nice day isn't it?!
Ehem... Fokus Gan, fokus....
Hari ini saya bener lagi bahagia bener....!!!
Kenapa?
Karena finally, for the first time, saya bisa beli album terbaru dari Maximum The Hormone!!!!
Kalian tahu Maximum The Hormone kan?
Udah Tahu mereka launching album kan?
Masa gak update?
Hadeh....
Trus buat apa saya cerita ya?
HAI HAI HAI HAI HAI HAI!!!!!
It's a nice day isn't it?!
Ehem... Fokus Gan, fokus....
Hari ini saya bener lagi bahagia bener....!!!
Kenapa?
Karena finally, for the first time, saya bisa beli album terbaru dari Maximum The Hormone!!!!
Kalian tahu Maximum The Hormone kan?
Udah Tahu mereka launching album kan?
Masa gak update?
Hadeh....
Trus buat apa saya cerita ya?
Minggu, 15 September 2013
First time
Oke, postingan kedua dalam satu hari yang sama!!!
Maklum, ada banyak ide di kepala, klo gak di keluarin bakalan kelupaan, gak seru juga jadinya.
Oke next saya bakalan ngomongin soal First-time experience, klo dalam bahasa indonesia artinya pengalaman pertama, kalau dalam bahasanya V*cky Pr*setyo artinya Peringkat pertama waktu pengalaman (it's getting nowhere dude!).
Ide soal postingan ini muncul ketika saya sedang berada dalam meeting di salah satu komunitas yang saya jalani (kayaknya). Kita sedang mempersiapkan sebuah event. Dalam sebuah meeting, sewajarnya meeting dipimpin oleh ketua, tapi ketika kita akan memulai meeting si ketua berceloteh "Gan, kamu aja yang mimpin meeting, ku gak biasa ngomong di depan orang gak kayak kamu". Seketika itu saya kepikiran soal konsep ini.
BALIK KE CERITA BRO!
Kenapa saya panas, karena kesannya saya mempunyai kemampuan yang belum seberapa ini dengan instant.
Ini yang saya ingin bagikan kepada kalian semua.
There is a first-time experience for everything.
Segalah hal yang ada di dunia ini pasti memiliki pengalaman pertama.
Pengalaman pertama ngomong di depan umum.
Pengalaman pertama masuk J'co.
Pengalaman pertama masuk toilet yang cuman ada tissu doang, gak ada semprot - semprotan airnya.
Let me tell you something about me, waktu saya SMA, saya bukan orang yang mungkin teman - teman saya kenal sekarang. Saya tipe orang yang bakal kalian temuin di pojokan kelas. Jika kalian tipe cowok yang suka ngebully, saya adalah orang yang paling sering kalian bully, jika kalian cewek, saya adalah cowok yang kalian bully (tetep aje ye). Itu karena saya orangnya memiliki kemaluan yang besar, maksud saya sifat pemalu saya besar.
Namun begitu kuliah, begitu masuk daerah baru dengan teman - teman yang mendukung (thx to you guys ADH C 2009) ada satu hal yang saya berubah dari diri saya, saya gak tahu malu.
Saya merasa masa SMA saya terbuang percuma, dan sejak kuliah saya suka mencoba hal baru, join komunitas baru, kalaupun jalan ke tempat baru yang belum pernah saya datengi, saya bakalan jadi orang yang selalu pingin bikin settlement (walaupun ujung - ujungnya di bayarin). dan yang perlu kalian tahu, saya gak pernah minta di temenin jika ingin mencoba orang baru (karena gak punya temen).
Apa yang spesial dari hal itu?. Coba bayangin, jika kalian di posisi ingin masuk ke dalam komunitas baru (saya memakai komunitas karena menurut saya komunitas adalah tempat belajar hal baru paling bagus dan fun), Apa yang kalian lakukan?. Hal pertama pasti ngajak satu tumbal (baca: temen) buat di ajakin ikutan komunitas itu.
Itu karena dalam diri kalian, tanpa sadar, otak kalian menghidupkan self-defense mode: on. Kalian bakalan takut ketemu orang baru, mencoba hal baru, takut menjadi amatiran, novice, cupu atau apapun namanya, dan apa yang terjadi jika kalian gak nemuin tumbal buat ikutan komunitas atau organisasi itu?. Kalian bakalan batal ikut komunitas itu.
Padahal kita gak tau, apa yang bakalan terjadi seandainya kalian ikut komunitas itu, siapa tahu peluang bisnis kalian muncul dari komunitas itu (saya sudah membuktikan itu beberapa kali, dan menyelamatkan event saya beberapa kali), siapa tahu kalian bakalan menemukan jodoh kalian disana (klo yang ini baru teori doang, belum kebukti huhuhuhu). Hal terburuk yang mungkin terjadi cuman di kacangin doang, itu pun cuman sementara waktu doang.
Saya menjadi saya saat ini karena saya berani mencoba hal baru, wajar kalian gagal di percobaan pertama, namanya juga belajar, semuanya mulai dari nol, dari langkah pertama. Kalau kalian di tertawain di cemooh, di hina yang udah lah, biarin aja, juga gak bakalan mati karena itu kan?.
Intinya di postingan ini saya ingin meng-encourage kalian untuk berani mencoba hal baru, gk usah ngajak tumbal (emang klo mau nyobain toilet yang ada tissu doang mau ngajakin temen juga?), kalau tertarik, dateng, cobain, suka lanjut, gak suka cabut, beres kan? :)
Maklum, ada banyak ide di kepala, klo gak di keluarin bakalan kelupaan, gak seru juga jadinya.
Oke next saya bakalan ngomongin soal First-time experience, klo dalam bahasa indonesia artinya pengalaman pertama, kalau dalam bahasanya V*cky Pr*setyo artinya Peringkat pertama waktu pengalaman (it's getting nowhere dude!).
Ide soal postingan ini muncul ketika saya sedang berada dalam meeting di salah satu komunitas yang saya jalani (kayaknya). Kita sedang mempersiapkan sebuah event. Dalam sebuah meeting, sewajarnya meeting dipimpin oleh ketua, tapi ketika kita akan memulai meeting si ketua berceloteh "Gan, kamu aja yang mimpin meeting, ku gak biasa ngomong di depan orang gak kayak kamu". Seketika itu saya kepikiran soal konsep ini.
BALIK KE CERITA BRO!
Kenapa saya panas, karena kesannya saya mempunyai kemampuan yang belum seberapa ini dengan instant.
Ini yang saya ingin bagikan kepada kalian semua.
There is a first-time experience for everything.
Segalah hal yang ada di dunia ini pasti memiliki pengalaman pertama.
Pengalaman pertama ngomong di depan umum.
Pengalaman pertama masuk J'co.
Pengalaman pertama masuk toilet yang cuman ada tissu doang, gak ada semprot - semprotan airnya.
Let me tell you something about me, waktu saya SMA, saya bukan orang yang mungkin teman - teman saya kenal sekarang. Saya tipe orang yang bakal kalian temuin di pojokan kelas. Jika kalian tipe cowok yang suka ngebully, saya adalah orang yang paling sering kalian bully, jika kalian cewek, saya adalah cowok yang kalian bully (tetep aje ye). Itu karena saya orangnya memiliki kemaluan yang besar, maksud saya sifat pemalu saya besar.
Namun begitu kuliah, begitu masuk daerah baru dengan teman - teman yang mendukung (thx to you guys ADH C 2009) ada satu hal yang saya berubah dari diri saya, saya gak tahu malu.
Saya merasa masa SMA saya terbuang percuma, dan sejak kuliah saya suka mencoba hal baru, join komunitas baru, kalaupun jalan ke tempat baru yang belum pernah saya datengi, saya bakalan jadi orang yang selalu pingin bikin settlement (walaupun ujung - ujungnya di bayarin). dan yang perlu kalian tahu, saya gak pernah minta di temenin jika ingin mencoba orang baru (karena gak punya temen).
Apa yang spesial dari hal itu?. Coba bayangin, jika kalian di posisi ingin masuk ke dalam komunitas baru (saya memakai komunitas karena menurut saya komunitas adalah tempat belajar hal baru paling bagus dan fun), Apa yang kalian lakukan?. Hal pertama pasti ngajak satu tumbal (baca: temen) buat di ajakin ikutan komunitas itu.
Itu karena dalam diri kalian, tanpa sadar, otak kalian menghidupkan self-defense mode: on. Kalian bakalan takut ketemu orang baru, mencoba hal baru, takut menjadi amatiran, novice, cupu atau apapun namanya, dan apa yang terjadi jika kalian gak nemuin tumbal buat ikutan komunitas atau organisasi itu?. Kalian bakalan batal ikut komunitas itu.
Padahal kita gak tau, apa yang bakalan terjadi seandainya kalian ikut komunitas itu, siapa tahu peluang bisnis kalian muncul dari komunitas itu (saya sudah membuktikan itu beberapa kali, dan menyelamatkan event saya beberapa kali), siapa tahu kalian bakalan menemukan jodoh kalian disana (klo yang ini baru teori doang, belum kebukti huhuhuhu). Hal terburuk yang mungkin terjadi cuman di kacangin doang, itu pun cuman sementara waktu doang.
Saya menjadi saya saat ini karena saya berani mencoba hal baru, wajar kalian gagal di percobaan pertama, namanya juga belajar, semuanya mulai dari nol, dari langkah pertama. Kalau kalian di tertawain di cemooh, di hina yang udah lah, biarin aja, juga gak bakalan mati karena itu kan?.
Intinya di postingan ini saya ingin meng-encourage kalian untuk berani mencoba hal baru, gk usah ngajak tumbal (emang klo mau nyobain toilet yang ada tissu doang mau ngajakin temen juga?), kalau tertarik, dateng, cobain, suka lanjut, gak suka cabut, beres kan? :)
Pelajaran hidup: Being a leader
Hellllloooooo....
Udah lumayan lama sejak terakhir posting... or at least that's what i think....
Selama beberapa bulan ini saya terkonsentrasi di beberapa event (skripsi gimana gan?).
Walaupun gak ngasilin duit, walaupun malah naikin pengeluaran perbulan, walaupun... (curhat).
Tapi saya yakin kok event - event ini akan menghasilkan sesuatu (syahrini banjet deh).
Salah satunya adalah pemikiran saya tentang konsep kepemimpinan.
Dengan event yang lumayan banyak, membuat saya berinteraksi dengan orang yang lebih bervariatif, ada banyak karakter manusia yang saya lihat, dan saya pelajari.
Begitu juga dengan kepemimpinan.
Style atau cara kepemimpinan di event - event yang saya jalani ini berbeda - beda.
Ada yang totally tegas, ada yang santai, bahkan ada yang kayak cewek lagi pms.
Tapi itulah style, cara, orang dalam memimpin kita gak bisa memaksakan agar semua orang punya gaya yang sama, saya sendiri tipe orang yang lumayan gampang beradaptasi (apa lagi klo mau minjem duit).
Setelah dilihat - lihat ada beberapa hal yang mesti di miliki oleh seorang pemimpin.
1. Berpenampilan rapi
2. Lulus S1
3. Sudah memiliki pengalaman...
Eh sori ding, itu bukan kriteria pemimpin, itu kriteria lowongan kerja (salah fokus).
Baiklah.... menurut saya inilah yang harus di miliki oleh seorang Pemimpin (bukan pemimpi, salah satu huruf aja langsung beda arti bro.
Yang pertama: Kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal:
Kemampuan ini sangat di perlukan oleh seorang leader, basically siapapun kamu, apapun pekerjaan kamu, kemampuan ini penting selama kamu masih berinteraksi dengan manusia lain. Yang di katagorikan kemampuan berkomunikasi yang baik bukan berarti harus seperti Mario Teguh, Soekarno, atau Public speaker lainnya. Cukup memastikan bahwa yang kamu ajak bicara mengerti maksud utamamu, sudah selesai.
Yang kedua: Kemampuan untuk melihat secara lebih luas. Sebagai pemimpin, yang harus kamu pastikan adalah bentuk besar dari tujuan organisasimu, jika kamu memperhatikan hal - hal teknis maupun details mungkin akan sangat bagus, tapi jangan sampai karena kamu memperhatikan satu hal terlalu berlebihan, kamu melupakan garis besar organisasimu.
Yang ketiga dan yang paling penting: kemampuan memotivasi team dan menghargai team.
Tidak peduli seberapa jago kamu dalam berkomunikasi, memberi perintah, atau seberapa tinggi IQ kamu, kamu itu bukan apa - apa tanpa team kamu, kamu cuman seperti otak tanpa badan, jadi hargailah team-mu dan motivasi mereka, dengan begitu tidak hanya team kamu bakalan mencapai target yang ingin di raih, tapi juga kamu bakalan mendapatkan benefit tersendiri, mungkin tidak dalam bentuk materi tapi dalam bentuk pengembangan diri :)
Mungkin banyak teori lain mengenai tehnik kepemimpinan, namun ingat, itu teknis, dan dapat di pelajari, termasuk dua point awal yang saya sampaikan, tapi jangan sampai kamu lupa dengan point ke 3, karena bagaimanapun team terdiri dari banyak orang yang punya peran tersendiri, menjadi pemimpin bukan berarti kamu lebih spesial dari yang lain, sebaliknya, kalau kalian sadari, menjadi pemimpin malah menunjukkan seberapa tergantungnya kita dengan orang lain dalam menjalankan sesuatu :)
Udah lumayan lama sejak terakhir posting... or at least that's what i think....
Selama beberapa bulan ini saya terkonsentrasi di beberapa event (
Walaupun gak ngasilin duit, walaupun malah naikin pengeluaran perbulan, walaupun... (curhat).
Tapi saya yakin kok event - event ini akan menghasilkan sesuatu (syahrini banjet deh).
Salah satunya adalah pemikiran saya tentang konsep kepemimpinan.
Dengan event yang lumayan banyak, membuat saya berinteraksi dengan orang yang lebih bervariatif, ada banyak karakter manusia yang saya lihat, dan saya pelajari.
Begitu juga dengan kepemimpinan.
Style atau cara kepemimpinan di event - event yang saya jalani ini berbeda - beda.
Ada yang totally tegas, ada yang santai, bahkan ada yang kayak cewek lagi pms.
Tapi itulah style, cara, orang dalam memimpin kita gak bisa memaksakan agar semua orang punya gaya yang sama, saya sendiri tipe orang yang lumayan gampang beradaptasi (apa lagi klo mau minjem duit).
Setelah dilihat - lihat ada beberapa hal yang mesti di miliki oleh seorang pemimpin.
1. Berpenampilan rapi
2. Lulus S1
3. Sudah memiliki pengalaman...
Eh sori ding, itu bukan kriteria pemimpin, itu kriteria lowongan kerja (salah fokus).
Baiklah.... menurut saya inilah yang harus di miliki oleh seorang Pemimpin (bukan pemimpi, salah satu huruf aja langsung beda arti bro.
Yang pertama: Kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal:
Kemampuan ini sangat di perlukan oleh seorang leader, basically siapapun kamu, apapun pekerjaan kamu, kemampuan ini penting selama kamu masih berinteraksi dengan manusia lain. Yang di katagorikan kemampuan berkomunikasi yang baik bukan berarti harus seperti Mario Teguh, Soekarno, atau Public speaker lainnya. Cukup memastikan bahwa yang kamu ajak bicara mengerti maksud utamamu, sudah selesai.
Yang kedua: Kemampuan untuk melihat secara lebih luas. Sebagai pemimpin, yang harus kamu pastikan adalah bentuk besar dari tujuan organisasimu, jika kamu memperhatikan hal - hal teknis maupun details mungkin akan sangat bagus, tapi jangan sampai karena kamu memperhatikan satu hal terlalu berlebihan, kamu melupakan garis besar organisasimu.
Yang ketiga dan yang paling penting: kemampuan memotivasi team dan menghargai team.
Tidak peduli seberapa jago kamu dalam berkomunikasi, memberi perintah, atau seberapa tinggi IQ kamu, kamu itu bukan apa - apa tanpa team kamu, kamu cuman seperti otak tanpa badan, jadi hargailah team-mu dan motivasi mereka, dengan begitu tidak hanya team kamu bakalan mencapai target yang ingin di raih, tapi juga kamu bakalan mendapatkan benefit tersendiri, mungkin tidak dalam bentuk materi tapi dalam bentuk pengembangan diri :)
Mungkin banyak teori lain mengenai tehnik kepemimpinan, namun ingat, itu teknis, dan dapat di pelajari, termasuk dua point awal yang saya sampaikan, tapi jangan sampai kamu lupa dengan point ke 3, karena bagaimanapun team terdiri dari banyak orang yang punya peran tersendiri, menjadi pemimpin bukan berarti kamu lebih spesial dari yang lain, sebaliknya, kalau kalian sadari, menjadi pemimpin malah menunjukkan seberapa tergantungnya kita dengan orang lain dalam menjalankan sesuatu :)
Kamis, 29 Agustus 2013
BTS Chapter 1
Lupa buat postingan yang ini huehehehehee
Konsep awal dari draft cerita yang ini berasal dari kehidupan sehari - hari saya.
Seperti contoh, rekan kerja yang narsis banget, fotoan di photo-booth event, ya, saya sih gak masalah ya klo fotoan doang, tapi ini kan pas lagi event, bisa kok fotoannya bentar aja.
Atau seberapa tergantungnya saya terhadap informasi yang berkembang di komunitas yang saya ikuti, terkadang saya kesal sendiri begitu tidak mendapat informasi terbaru, suka takut ketinggalan jaman.
Bisa dibilang draft cerita ini adalah cerita yang nge-mocking diri saya sendiri heheheheehe.
Awalnya saya mau buat cerita dengan latar belakang post-apocalypse, gak tau kenapa saya suka banget dengan cerita yang berbau post-apocalypse, lebih seru aja gitu.
Tapi setelah di pikir - pikir, ngebuat settingan post-apocalypse itu RIBET!, butuh konsepting yang bagus, selain itu, kurang dekat dengan realita, jadi pesan yang mau di sampaikan agak kurang maksimal.
Kenapa dari sudut pandang orang pertama?
Well... cara penceritaan seperti ini gak bisa terlepas dari buku "Fight Club".
Selain itu juga, dengan sudut pandang pertama, kita membatasi pengetahuan pembaca mengenai fable cerita, jadi lebih terbuka kesempatan buat pengembangan cerita, malahan saya berencana meletakkan twist di akhir cerita.
Saya juga berencana untuk membuat si tokoh utama bisa nembus Fourth Wall, klo di komik, itu terinspirasi dari Gin dari komik gintama, dan Deathpool dari Marvel studio. juga ada Supernova dari dee lestari.
itu aja sih yang bisa saya ceritain tentang chapter 1, mudah - mudahan kalian terhibur, dan bisa kasih komen untuk evaluasi kepenulisan fiksi.
Adios amigos :)
Konsep awal dari draft cerita yang ini berasal dari kehidupan sehari - hari saya.
Seperti contoh, rekan kerja yang narsis banget, fotoan di photo-booth event, ya, saya sih gak masalah ya klo fotoan doang, tapi ini kan pas lagi event, bisa kok fotoannya bentar aja.
Atau seberapa tergantungnya saya terhadap informasi yang berkembang di komunitas yang saya ikuti, terkadang saya kesal sendiri begitu tidak mendapat informasi terbaru, suka takut ketinggalan jaman.
Bisa dibilang draft cerita ini adalah cerita yang nge-mocking diri saya sendiri heheheheehe.
Awalnya saya mau buat cerita dengan latar belakang post-apocalypse, gak tau kenapa saya suka banget dengan cerita yang berbau post-apocalypse, lebih seru aja gitu.
Tapi setelah di pikir - pikir, ngebuat settingan post-apocalypse itu RIBET!, butuh konsepting yang bagus, selain itu, kurang dekat dengan realita, jadi pesan yang mau di sampaikan agak kurang maksimal.
Kenapa dari sudut pandang orang pertama?
Well... cara penceritaan seperti ini gak bisa terlepas dari buku "Fight Club".
Selain itu juga, dengan sudut pandang pertama, kita membatasi pengetahuan pembaca mengenai fable cerita, jadi lebih terbuka kesempatan buat pengembangan cerita, malahan saya berencana meletakkan twist di akhir cerita.
Saya juga berencana untuk membuat si tokoh utama bisa nembus Fourth Wall, klo di komik, itu terinspirasi dari Gin dari komik gintama, dan Deathpool dari Marvel studio. juga ada Supernova dari dee lestari.
itu aja sih yang bisa saya ceritain tentang chapter 1, mudah - mudahan kalian terhibur, dan bisa kasih komen untuk evaluasi kepenulisan fiksi.
Adios amigos :)
Rabu, 28 Agustus 2013
Chapter 1 : Hal yang paling berharga
Saat kamu membaca judul chapter ini, menurutmu apa hal yang paling berharga di dunia?.
Uang?
Keluarga?
Kekasih?
Popularitas?
Popularitas?
Kalian bisa sebutkan sesuka kalian, dan bagi yang berpendapat bahwa pendidikan adalah hal yang paling berharga di dunia, berarti jalan pikir kita sedikit sama. Bagi saya, hal yang paling berharga di dunia adalah INFORMASI.
Mengapa informasi?. Karena dengan informasi yang tepat, saya bisa menghancurkan kekayaan kalian, keluarga kalian, hubungan kalian dengan kekasih kalian dan juga popularitas kalian.
Saya beranggapan bahwa informasi di bagi dalam dua jenis:
Informasi yang harus di publikasikan.
Informasi yang tidak boleh di publikasikan.
Manusia pada dasarnya egois dan defensif, dan kebanyakan manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Mungkin beberapa dari kalian beranggapan itu salah karena melihat banyaknya orang - orang yang melakukan kegiatan sosial.
Pfffttt itu omong kosong!.
Dimana kalian melihat orang - orang yang melakukan kegiatan sosial itu?. Televisi, Radio, Koran, Sosial Media?. Itulah bukti bahwa mayoritas manusia hanya memikirkan dirinya sendiri dan juga bukti bahwa manusia punya ketergantungan yang tinggi terhadap informasi.
Yang kalian lihat dan dengar di media - media adalah jenis informasi yang harus di publikasikan. Orang - orang sosial ini tidak peduli dengan orang sekitar, yang mereka pedulikan adalah image mereka di publik. Itulah mengapa mereka melakukan dokumentasi lalu di publikasikan secara besar - besaran, mereka ingin semua orang tahu bahwa mereka melakukan kegiatan sosial dan "memiliki" jiwa sosial.
Logikannya adalah, jika mereka memang orang yang berjiwa sosial, mengapa butuh publikasi?. Orang yang berjiwa sosial tidak akan butuh publikasi yang berlebih hingga ke media - media. Dokumentasi mungkin di butuhkan jika mereka ingin mengevalusi kegiatan mereka, namun itupun tidak harus di publikasikan.
Lihat di sosial media, banyak sekali orang - orang yang mempublish foto - foto mereka, itu karena mereka ingin menggambarkan diri mereka dengan suatu image, atau paling tidak itu yang mereka ingin orang - orang sekitar mereka tahu dan gambarkan tentang mereka, entah itu Glamor, Sukses, Kaya, Sosial dll.
Sebuah perusahaan mobil ingin pelanggannya tahu bahwa mobil yang mereka produksi bisa mencapai kecepatan maksimal dalam waktu kurang dari 5 menit dan Voila! itulah yang kalian lihat di banner, di baliho, di iklan - iklan yang tersebar di semua media masa.
Tapi
Apa kalian tahu?
Hal - hal yang sosialita ini tidak ingin kalian ketahui mengenai mereka?
Hal - hal yang perusahaan mobil ini tidak ingin kalian ketahui mengenai mobil - mobil produksi mereka?
Apakah kalian masih memiliki bayangan yang sama tentang sosialita ini setelah kalian tahu informasi yang para sosialita ini tutupi tentang mereka?.
Apa kalian masih akan membeli mobil mereka setelah kalian mengetahui informasi yang mereka tutupi tentang mobil produksi mereka?.
Mereka adalah korban dari sifat manusia yang merupakan mahluk sosial.
Mereka adalah budak dari informasi
Mereka adalah budak saya.
Mungkin dalam kasus mereka, informasi yang mereka punya adalah: Mereka adalah pelanggan saya.
Nama saya Jack, tentu bukan nama asli dan sangat pasaran, namun lebih sedikit kalian tahu, lebih bagus.
Pekerjaan saya adalah sebagai Dewa di era informasi ini, khususnya jenis informasi yang tidak boleh di publikasikan.
Cerita ini adalah salah satu informasi yang saya ingin kalian tahu.
Informasi yang penting bukan karena saya ingin terkenal, namun penting karena dapat menyelamatkan eksistensi manusia di bumi.
Jadi, duduk dan bacalah cerita saya, mungkin akan sedikit membingungkan, tapi segalanya butuh proses. Dalam kegiatan seksual, orgasme tidak akan terjadi begitu saja sebelum ada foreplay, begitu juga dengan buku ini, jika kalian ingin langsung orgasme, silahkan baca halaman terakhir, namun ingat, orgasme kalian tidak akan senikmat ketika kalian memulainya dengan foreplay.
Senin, 26 Agustus 2013
To Publish My own Story
Udah lama banget, mungkin sejak SMA, saya suka sekali menulis draft cerita. Jika di total mungkin sudah ada 3 draft cerita bentuk novel yang saya buat, bukan untuk di publish, cuman untuk kesenangan pribadi.
Saya lupa pernah mengutip melihat di mana, tapi seorang author pernah menulis seperti ini "Jika kamu tidak melihat buku yang sesuai dengan cerita di kepalamu, buatlah sendiri!". Kata - kata itu yang memotivasi saya buat terus menulis draft cerita yang sedikit gak jelas.
Semalam, ketika saya menonton Fight Club (untuk yang ke 10xnya) saya mendapat ide: Ketimbang bikin draft cerita, ada yang baca enggak, menuhin memori komputer iya, kenapa gak di posting di Blog aja?.
Jadi untuk postingan ke depan akan saya sisipkan beberapa draft cerita yang pernah saya buat, bukan untuk ajang narsis, tapi untuk mengasah skill penulisan, saya harap ketika kalian membaca cerita yang saya buat, kalian mau meninggalkan sedikit komentar, masukan, kritik dan saran.
Dan mudah-mudahan, keberanian saya mempublish draft cerita asal jadi ini, meng-encourage penulis - penulis amatir yang selama ini menyembunyikan draft mereka di pojok kamar bersamaan dengan dalemannya untuk meng-expose diri dalam dunia kepenulisan, karena menurut saya, gak ada yang salah dengan belajar, membuat kesalahan sekali tidak masalah dari pada tidak berani membuat kesalahan sama sekali, karena tidak membuat kesalahan sama sekali akan membuat ketidak jelasan pada nilai benar dan salah. :)
Saya lupa pernah mengutip melihat di mana, tapi seorang author pernah menulis seperti ini "Jika kamu tidak melihat buku yang sesuai dengan cerita di kepalamu, buatlah sendiri!". Kata - kata itu yang memotivasi saya buat terus menulis draft cerita yang sedikit gak jelas.
Semalam, ketika saya menonton Fight Club (untuk yang ke 10xnya) saya mendapat ide: Ketimbang bikin draft cerita, ada yang baca enggak, menuhin memori komputer iya, kenapa gak di posting di Blog aja?.
Jadi untuk postingan ke depan akan saya sisipkan beberapa draft cerita yang pernah saya buat, bukan untuk ajang narsis, tapi untuk mengasah skill penulisan, saya harap ketika kalian membaca cerita yang saya buat, kalian mau meninggalkan sedikit komentar, masukan, kritik dan saran.
Dan mudah-mudahan, keberanian saya mempublish draft cerita asal jadi ini, meng-encourage penulis - penulis amatir yang selama ini menyembunyikan draft mereka di pojok kamar bersamaan dengan dalemannya untuk meng-expose diri dalam dunia kepenulisan, karena menurut saya, gak ada yang salah dengan belajar, membuat kesalahan sekali tidak masalah dari pada tidak berani membuat kesalahan sama sekali, karena tidak membuat kesalahan sama sekali akan membuat ketidak jelasan pada nilai benar dan salah. :)
Langganan:
Postingan (Atom)